Mengucapkan Salam, Ibadah yang Terlupakan
Selasa, 04 Maret 2008
Banyak sekali nash baik di dalam Al-Qur'an maupun as-Sunnah yang bisa dijadikan hujjah atau dalil dalam hal ini. Karena Allah subhanahu wata'ala sendiri memang menjanjikan pahala dan 'iming-iming' yang tak ternilai harganya kepada siapa saja di antara hamba-hamba-Nya yang ikhlas beribadah kepada-Nya semata. Hal itu untuk memotivasi hamba-Nya agar selalu semangat, istiqamah dan "fastibiqul khairat" (berlomba-lomba dalam kebaikan dan ibadah kepada-Nya). |
| Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam banyak ayat-Nya di antaranya, artinya, "Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan kedalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah". (QS. an-Nisa: 122) "Mereka (orang-orang yang bertaqwa) itu balasannya ialah ampunan dari Rabb mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal". (QS. Ali'Imran: 136) "Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu". (QS. 65:2-3) "Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna". (QS. an-Najm: 39-41) Dengan motivasi tersebut pun masih banyak manusia yang bermalas-malasan, enggan dan mengabaikan ibadah kepada Allah subhanahu wata'ala. Contoh sederhana dari pahala-pahala yang banyak terabaikan adalah menebarkan salam, 'Assalamu 'alaikum.' Tidak sedikit di antara umat Islam yang merasa minder dan malu kalau harus menyapa dengan mengucapkan 'Assalamu 'alaikum' ketika bertemu saudaranya, dan lebih bangga kalau dapat menyapa dengan sapaan 'ala barat' atau sapaan yang lainnya, seperti: hallo; hai; selamat pagi; selamat siang; selamat sore; selamat malam; dan lain sebagainya. Juga ketika mendatangi rumah sanak-saudara atau teman, terasa berat rasanya mengucapkan salam dan terasa lebih 'sreg' kalau dengan ucapan selainnya, seperti: permisi; punten atau hanya sekedar mengetuk pintu rumahnya, bahkan masuk rumah dengan tanpa permisi. Padahal Allah subhanahu wata'ala telah berfirman, artinya "Hai orang-orang yang beriman, jangan lah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuni nya.Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat". (QS. an-Nur: 27) Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Hak seorang muslim atas saudaranya yang muslim ada enam: (di antaranya) apabila kamu bertermu dengannya, maka ucapkanlah salam kepadanya." (HR. Muslim). Allah subhanahu wata'ala juga telah berfirman, yang artinya, "Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memper hitungkan segala sesuatu". (QS. an-Nisa: 86) Mengucapkan salam 'Assalamu 'alaikum' dalam Islam bukan sekedar sapaan belaka, tetapi lebih mulia dari itu. Ia merupakan bagian dari ibadah kepada Allah subhanahu wata'ala, yang jelas punya nilai dan pahala yang besar di sisi-Nya. Karena ucapan salam itu adalah doa. Sedangkan doa itu sendiri merupakan inti ibadah dan diberikan pahala bagi siapa yang mengucapkannya. Salam juga merupakan amalan dan sunnah para rasul Allahdan para malaikat-Nya. Allah subhanahu wata'ala berfirman, yang artinya, "Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan. (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, "Salaman", (maka) Ibrahim menjawab, "salamun" (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal". (QS. adz-Dzariyat: 24-25) Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda, "Tatkala Allah menciptakan Nabi Adam 'alaihissalam, Dia berfirman, "Pergilah!! Dan ucapkanlah salam kepada para Malaikat yang sedang duduk, lalu perhatikanlah apa yang mereka akan jawab, sesungguhnya jawaban (para malaikat itu) adalah salam (penghormatan)mu dan anak keturunanmu. Maka Nabi Adam 'alaihissalam berkata, "Assalamu 'alaikum", lalu mereka (para malaikat) menjawab, "Assalamu'alaika wa Rahmatullah". Mereka menambahkan: "Warahmatullah". (Muttafaq'alaih) Dan tidak diragukan lagi, salam juga merupakan ajaran dan amalan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para shahabat ridwanullahu 'alaihim. Dari 'Abdullah bin 'Amru bin al'Ash radhiyallahu 'anhuma bahwa seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, "Ajaran Islam yang manakah yang paling baik"? Beliau menjawab, "Kamu memberi makan (orang yang membutuh kan nya), dan kamu mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal". (Muttafaq 'alaih) Karena kecintaan para shahabat yang begitu besar kepada Allah subhanahu wata'ala, suatu ketika mereka mengucapkan di dalam shalat mereka, "Salam sejahtera atas Allah subhanahu wata'ala dari hamba-hamba-Nya, salam sejahtera atas Jibril, salam sejahtera atas fulan dan fulan. Maka saat itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang mereka untuk mengucapkan yang demikian, "salam sejahtera untuk Allah subhanahu wata'ala, salam sejahtera untuk hamba-hamba-Nya". Dan Beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah Dia lah Yang Maha Pemberi keselamatan/as-Salam (yakni: Dia lah Jalla wa 'Ala yang menyelamatkan dari segala aib dan kekurangan), maka tidak perlu kalian memuji-Nya dengan mendoakan keselamatan atas diri-Nya". Lalu Beliau berkata kepada mereka, "Ucapkanlah, "Salam sejahtera atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang shalih". Maka jika kalian mengucapkan nya, sesungguhnya kalian telah mengucapkan salam kepada semua hamba yang shalih baik yang ada di dunia maupun di langit". (HR. al-Bukhari) Seorang yang mengucapkan salam kepada saudaranya berarti ia telah mendoakan saudaranya agar Allah subhanahu wata'ala menyelamatkannya dari segala musibah yang akan menimpanya. Apakah musibah itu berupa penyakit lahir maupun bathin (hati), hilang akal (gila), dari kejahatan manusia, maksiat dan dosa-dosa, dari siksa neraka dan semuanya yang kita anggap sabagai musibah dari yang terkecil sampai musibah yang paling besar. Ini semua menunjukkan betapa indah dan harmonisnya kehidupan kaum muslimin, saling mendoakan di antara mereka dengan kebaikan dan keselamatan, sehingga tumbuhlah kecintaan dan kasih sayang di antara mereka. Hal ini sesuai dengan contoh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang pernah diajarkan kepada ummatnya, Dari Abu hurairah radhiyallahu dia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidaklah kalian masuk surga sampai kalian beriman. Dan tidaklah kalian beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan akan sesuatu. Apabila kalian melakukannya niscaya kalian akan saling mencintai, Tebarkanlah salam di antara kalian." (HR. Muslim) Dan kalau setiap harinya kita menjumpai 100 orang muslim dan saat itu kita tidak mengucapkan salam kepadanya, betapa meruginya kita, karena berarti kita telah mengabaikan dan menyia-nyiakan pahala-pahala yang Allah subhanahu wata'ala sajikan cuma-cuma tanpa harus bersusah payah mendapatkannya. Belum tentu kesempatan emas untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya dengan cuma-cuma akan kembali diberikan kepada kita. Boleh jadi saat itu adalah kesempatan terakhir yang akan kita sesali dan tangisi pada hari akhir. Maka dari itu jangan sia-siakan!!! Mulailah menebarkan salam kepada saudara-saudaramu! (Muhammad Ruliyandi Abu Nabiel) Marja': kitab "Riyadhus Sholihin" syarh Syeikh Ibnu Utsaimin |
Read more...
10 KIAT SUKSES BERTETANGGA
Senin, 18 Februari 2008
Berikut kiriman artikel dari Akhi Najib.
10 KIAT SUKSES BERTETANGGA
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sebaik-baik sahabat di sisi Allah adalah sebaik-baik manusia kepada sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga adalah orang yang paling baik terhadap tetangganya". (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi)
Banyak cara dan kiat untuk menjadi tetangga terbaik dan mendapatkan simpati dan cinta para tetangga, serta merasakan tulus dan mulianya kasih sayang dari mereka.
Di antara kiat-kiat yang paling utama dan sangat dianjurkan oleh Islam adalah sebagai berikut:
1. Tidak Menyakiti Tetangga dan Murah Hati.
Tidak salah lagi bahwa menyakiti tetangga adalah perbuatan yang diharamkan dan termasuk di antara dosa-dosa besar yang wajib untuk dijauhi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah subhanahu wata’ala dan hari Akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya". (Muttafa'alaih)
Beliaushallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, "Demi Allah tidaklah seseorang beriman! Demi Allah tidaklah seseorang beriman! Demi Allah tidaklah seseorang beriman!, Mereka para sahabat bertanya, "Siapa ya Rasulullah?". Rasulullah menjawab, "Seseorang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya". (HR. al-Bukhari).
Sedangkan Islam mengajarkan umatnya agar senantiasa bersikap murah hati terhadap para tetangga dan memuliakannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya." (Muttafaq 'alaih).
Di antara sikap memuliakan tetangga dan berbuat baik kepadanya adalah: memberikannya hadiah walaupun tidak seberapa nilainya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh 'Aisyah radhiyallahyu ‘anhu ia berkata, "Wahai Rasulullah! Saya memiliki dua tetangga, siapa yang harus aku beri hadiah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, "Kepada tetangga yang lebih dekat pintunya darimu?" (HR. al-Bukhari).
2. Memulai salam
Memulai salam adalah bagian dari tanda-tanda tawadhu (rendah hati) seseorang dan tanda ketaatannya kepada Allah subhanahu wata’ala. Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman,"…Dan berendah dirilah kamu terhadap o-rang-orang yang beriman." (QS. 15:88)
Begitu juga menebarkan salam dapat menumbuhkan kasih sayang di antara kaum muslimin. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "… Maukah aku beritahu kepada kalian tentang sesuatu yang jika kalian mengerjakannya, maka kalian akan saling mencintai: Tebarkan salam di antara kalian." (HR. Muslim)
Menebarkan salam juga merupakan hak di antara hak-hak seorang muslim atas saudaranya yang muslim. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Hak seorang muslim atas saudaranya yang muslim ada enam: ji0ka bertemu dengannya, maka ucapkanlah salam kepadanya,…" (HR. Muslim).
Dan sekikir-kikirnya manusia adalah yang kikir memberikan salam. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya sekikir-kikirnya manusia adalah orang yang kikir mengucapkan salam." (HR. Ibnu Hibban. Dan dishahihkan oleh al-Albani).
Menebarkan salam juga merupakan salah satu faktor masuk surga. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Wahai Manusia!! Tebarkanlah salam, berikanlah makan, bersilaturrahimlah, dan shalatlah di waktu malam, sedangkan manusia sedang tidur." (HR. at-Tirmidzi. Dishahihkan oleh al-Albani).
3. Bermuka berseri-seri (ceria)
Berwajah berseri-seri dan selalu tersenyum saat bertemu dengan para shahabatnya adalah merupakan kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Tidak pernah Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam melihatku kecuali ia tersenyum padaku." (Hadits Muttafaq 'alaih).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,"Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah." (HR. at-Tirmidzi. Dishahihkan oleh al-Albani). dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, "Janganlah kamu menghina/meremehkan sedikit pun dari kebaikan, walaupun hanya bertemu dengan saudaramu dengan muka berseri-seri." (HR. Muslim).
4. Menolong Saat dalam Kesulitan.
Di antara memelihara dan menjaga hak-hak bertetangga adalah dengan menolong tetangga saat dalam kesulitan/ saat ia membutuhkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallambersabda, "Sesungguhnya asy'ariyyin (suku asy'ari) adalah jika perbekalannya habis, atau jika persediaan makanan untuk keluarganya di Madinah tinggal sedikit, mereka mengumpul kan apa yang mereka miliki dalam satu kain, lalu mereka membagikannya di antara mereka pada tempat mereka masing-masing dengan sama rata. Mereka adalah bagian dariku, dan aku adalah bagian dari mereka." (Hadits Muttafaq 'alaih).
Banyak di antara para tetangga yang tidak mau tau tahu dengan tetangganya sedikit pun. Padahal menolong tetangga saat ia membutuhkan adalah salah satu faktor untuk dapat meraih simpati dan cintanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Seutama-utama amal shalih adalah membahagiakan saudaramu yang mu'min, atau melunaskan hutangnya, atau memberinya roti." (HR. Ibnu Abi ad-Dunya, dan dihasankan oleh al-Albani).
5. Memberikan Penghormatan yang Istimewa.
Intervensi dalam urusan pribadi tetangga adalah salah satu sebab yang dapat menimbulkan ketidakharmonisan dalam bertetangga. Seperti menanyakan hal-hal yang sangat khusus (pribadi). Contoh: “Berapa gajimu?” “Berapa pengeluaranmu tiap bulan?” “Berapa uang simpananmu (tabungan) di bank?” “Kamu punya berapa rekening?” Dan lain sebagainya.
Seorang muslim yang baik adalah seorang yang memperhatikan tata krama dalam bertetangga, tidak mencampuri urusan yang tidak bermanfaat baginya, dan tidak menanyakan urusan-urusan orang lain yang bersifat pribadi. Allah subhanahu wata’ala berfirman, "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.” (QS. Al-Isra': 36)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, "Di antara baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya." (HR. at-Tirmidzi, dan dishahihkan oleh al-Albani).
Maka jika anda ingin mendapat cinta dan simpati tetangga, janganlah pernah mencampuri urusan-urusan pribadi mereka.
6. Menerima Udzur (permohonan maaf).
Bersikap toleransi dengan tetangga, dan lemah lembut dalam berinteraksi dengannya merupakan salah satu kiat untuk menarik simpati tetangga. Contohnya: Dengan menerima permohonan maaf darinya, dan menganggap seolah-olah ia tidak pernah melakukan kesalahan tersebut. Karena tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat salah.
Bahkan yang lebih utama adalah memaafkannya sebelum ia meminta maaf. Sikap inilah yang dapat menambah kecintaan tetangga kepada kita. Sebagai-mana yang diperbuat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamterhadap orang-orang munafik saat mereka tidak pergi berjihad, maka tatkala beliau shallallahu ‘alaihi wasallamtelah kembali dari peperangan, mereka datang dan menyampaikan udzur mereka kepada beliaushallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau pun menerimanya, serta menyerahkan rahasia-rahasia mereka kepada Allah subhanahu wata’ala.
7. Menasehati dengan lemah lembut.
Manusia yang berakal tentu tidak akan menolak nasehat, dan tidak pula membenci orang yang menasehatinya. Tetapi umumnya manusia tidak menerima kalau dirinya dinasehati dengan cara dan sikap yang kasar serta tidak beretika. Allah subhanahu wata’ala sungguh telah memuji Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengaruniakan sifat lemah lembut kepada beliau, sebagai- mana firman-Nya, artinya, "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu…" (QS. Ali 'Imran: 159)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya Allah Maha Lembut, Dia mencintai kelembutan dalam segala urusan." (Hadits Muttafaq 'alaih).
Seorang muslim yang baik ketika ia tahu tetangganya berbuat maksiat adalah menasehatinya dengan lemah lembut, dan mengajaknya kembali ke jalan Allah shallallahu ‘alaihi wasallam, memotivasinya agar berbuat baik, dan memperingatkannya dari kejahatan, serta mendo’akannya tanpa sepengetahuannya. Sikap-sikap inilah yang dapat menarik simpati tetangga dan memperbaiki hubungan di antara tetangga.
8. Menutup Aib.
Seorang mu'min adalah seorang yang mencintai saudara-saudaranya, menutup aibnya, bersabar atas kesalahannya, dan menginginkan saudaranya selalu mendapatkan kebaikan ,taufiq serta istiqamah. Dengan sikap ini pula kita akan meraih simpati dan cinta tetangga. Nabishallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan di Akhirat." (HR. Muslim).
9. Mengunjungi.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang keutamaan berkunjung ini, "Sesungguhnya ada seorang yang mengunjungi saudaranya di suatu kampung. Maka Allah subhanau wata’ala mengutus seorang malaikat untuk mengawasi perjalanannya. Malaikat tadi bertanya kepadanya, "Mau ke mana kamu?”Lalu ia menjawab, "Saya mau mengunjungi saudaraku di kampung." Lalu ia bertanya kembali, "Apa kamu ingin mengambil hakmu darinya?” Ia menjawab, "Tidak, tetapi karena saya mencintainya karena Allah”. Dia berkata, "Sesungguhnya aku adalah utusan Allah subhanahu wata’ala kepadamu, dan sesungguhnya Allah subhanahu wata ‘ala mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena-Nya." (HR. Muslim).
Seseorang hendaknya mencari waktu yang tepat untuk mengunjungi tetangganya. Tidak mendatanginya dengan tiba-tiba atau tanpa mengabarinya terlebih dahulu atau meminta izin kepadanya. Dan hendaklah tidak membuat tetangga merasa terbebani atau direpotkan dengan kunjungannya. Maka hendaklah ia tidak terlalu sering berkunjung, khawatir kalau hal itu membosankannya dan membuatnya menjauhkan diri darinya. Dan juga hendaklah tidak duduk berlama-lama saat berkunjung. Kiat-kiat inilah yang dapat membuat tetangga senang menyambut kunjungan kita, bahkan merindukan kedatangan kita untuk kali berikutnya.
10. Bersikap Ramah Tamah.
Di antara sekian banyak kiat sukses meraih simpati para tetangga dan mempererat hubungan di antara para tetangga adalah dengan bersikap ramah tamah terhadap mereka dengan ungkapan dan ucapan yang baik dan lembut, atau dengan memberikan hadiah istimewa kepadanya, atau dapat pula dengan mengundang mereka untuk makan di rumah kita, dan lain sebagainya. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya, "Perkataan yang baik dan pemberian ma'af lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan sipenerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun". (QS. Al-Baqarah: 263).
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallambersabda, "Saling memberi hadiah lah, niscaya kalian akan saling mencintai." (HR. al-Bukhari dalam kitab "al-Adab al-Mufrad").
Inilah beberapa kiat syar'i untuk meraih simpati para tetangga, menjaga dan menjalin kasih sayang dengan mereka. Semoga Allah subhanau wata’ala memberikan taufiqNya kepada kita. Sesungguhnya Dia Maha Pemberi taufiq dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan akhir da'wah kami "Segala puji hanya bagi Allah Rabb semesta alam."
(Abu Nabiel Muhammad Ruliyandi)ٌ
Sumber:
"10 Thuruq Li Kasbi al-Jiran" (Dr. Ahmad bin ‘Utsman al-Mazid dan Dr. ‘Adil bin ‘Ali asy-Syaddy), dengan sedikit tambahan dan pengurangan.
Read more...
Bekal Para Da'i - Bekal Pertama : Berilmu
Jumat, 30 November 2007
Assalaamu alaikum warohmatuLLOH wa barokatuH,
Lanjutan dari artikel pekan kemarin. Bekal yang pertama ini sangat berkaitan erat dengan artikel yang diposting oleh Akhi Najib mengenai beramal dengan ilmu. Insya ALLOH semakin menambah semangat kita untuk terus mencari ilmu yang syar'i.
Wassalaamu alaikum warohmatuLLOH wa barokatuH,
Abu Musyaffa
BEKAL PERTAMA : BERILMU
Seorang da’i haruslah memiliki ilmu tentang apa yang ia dakwahkan di atas ilmu yang shahih yang berangkat dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Karena setiap ilmu yang diambil dari selain Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, wajib diteliti terlebih dahulu. Setelah menelitinya, maka dapat menjadi jelas apakah ilmu tersebut selaras ataukah menyelisihi Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Apabila selaras maka diterima dan apabila menyelisihi maka wajib menolaknya tidak peduli siapapun yang mengucapkannya.
Telah tetap sebuah riwayat dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya beliau berkata :
يوشك أن تنزل عليكم حجارة من السماء أقول: قال رسول الله وتقولون: قال أبو بكر وعمر
Apabila pada ucapan Abu Bakr dan ’Umar yang menyelisihi ucapan Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam saja (diancam) seperti ini, lantas bagaimana menurut anda dengan ucapan orang yang keilmuan, ketakwaan, persahabatan dan kekhilafahannya di bawah keduanya (Abu Bakr dan ’Umar)?!
Sesungguhnya, menolak ucapan orang yang menyelisihi Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam adalah suatu hal yang lebih utama. Alloh Azza wa Jalla telah berfirman :
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَـالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Imam Ahmad rahimahullahu berkata :
أتدري ما الفتنة؟ الفتنة الشرك، لعله إذا ردّ بعض قوله أن يقع في قلبه شيء من الزيغ فيهلك
قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِى أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِى وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَآ أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
إنك ستأتي قوماً أهل كتاب
إنكم تختصمون إليّ ولعل بعضكم أن يكون ألحن بحجته من بعض فأقضي له بنحو ما أسمع
ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَـدِلْهُم بِالَّتِى هِىَ أَحْسَنُ
Mungkin akan ada yang berkata : ”Bukankah ucapan anda ini menyelisihi ucapan Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam :
بلغوا عني ولو آية
1. Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Kitabuz Zakah, Bab Akhdzush Shodaqoh minal Aghniya’ wa taruddu ilal Fuqoro` haitsu kaanuu (1469) dan Muslim dalam Kitabul Iman, Bab as-Du`a’ ila asy-Syahadatain wa Syaro’i` al- Islam (13), (19).
2. Diriwayatkan oleh al-Bukhari di dalam Kitabusy Syahadaat, Bab man Aqoomal Bayyinah ba’dal Yamiin (2680) dan Kitabul Ahkaam, Bab Mau’izhatul Imam lil Hadhorim (7169) serta Muslim di dalam Kitab Bab Bayaan anna Hukmal Haakim la yughoyyirul Bathin (1713).
3. Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Kitab Ahaadits al-Anbiya`, Bab Ma dzakaro ’an Bani Isra`il (3461).
Read more...
Al-Hijamah - Bekam
Senin, 26 November 2007
"dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku,"
[Asy Syu'araa (26): 80]
"…apa saja yang dibawa Rosul kepadamu, maka ambillah, dan apa saja yang
dilarangnya, maka tinggalkanlah…"
[Al-Hasyr (59): 7]
"Tidaklah Allah menurunkan penyakit melainkan menurunkan penawarnya."
[HR. Bukhari]
Hijamah atau bekam atau kop (dari bahasa Inggris: Blood cupping) adalah salah satu metode Thibbun Nabawwi - pengobatan yang dicontohkan Nabi.
Definisi Al-Hijamah, Bekam
Kata al-hijmu berarti pekerjaan al-hajjam, tukang bekam. Al-Hijmu berarti mengisap atau menyedot. Al- Hajjam sama dengan al-mashshash, tukang menghisap, tukang bekam.
Al- Mihjam atau al-mihjamah merupakan gelas yang digunakan untuk menampung darah yang dikeluarkan dari kulit pasien, atau gelas untuk menghimpun darah hijamah.
Kesimpulan definisi hijamah menurut bahasa ialah ungkapan tentang menghisap darah dan mengeluarkannya dari permukaan kulit, yang kemudian ditampung di dalam gelas mihjamah, yang menyebabkan pemusatan dan penarikan darah di sana, lalu dilakukan penyayatan kulit dengan pisau bedah, guna untuk mengeluarkan darah.
Bekam untuk Pengobatan
Para ahli sepakat bahwa pengobatan yang baik ialah pengobatan luar dalam.
Dengan dua terapi ini, herba dan bekam, merupakan kekuatan sinergis bila dipadukan, bekam sebagai terapi luar, dan herba sebagai terapi dalam yang tidak bisa disembuhkan dengan bekam.
Terapi bekam memungkinkan mengeluarkan darah kotor dengan cepat agar badan kita tidak lemah dan diserang penyakit. Darah kotor yang dikeluarkan tersebut bisa jadi mengandung toksid (racun) yang dapat menyebabkan statis darah (penyumbatan darah) bahkan diantara penyebab terjadinya penyakit. Sistem darah yang tidak berjalan dengan lancar, sedikit demi sedikit akan mengganggu kesehatan baik itu fisik ataupun mental seseorang.
Darah yang diambil dengan Al Hijamah ialah darah yang berada dibawah lapisan jaringan kulit, kapiler, bukan pembuluh pena apalagi arteri. Karena kulit merupakan jaringan terbesar yang ada pada diri manusia yang disanalah beradanya sisa-sisa toksid dalam darah.
Sejarah Bekam
Terapi bekam itu telah dikenal bangsa-bangsa purba sejak kerajaan Sumeria berdiri, lalu berkembang di Babilonia, Mesir, Saba dan Persia. Namun, menurut As Suyuthi, bekam berasal dari Isfahan. Jadi, sebelum Rasul SAW diutuspun bekam telah ada.
Orang-orang Barat telah lama mengenal pengobatan dengan membuang darah, pada abad ke 18 mereka menggunakan lintah sebagai alat untuk berbekam. Pada suatu waktu Perancis pernah mengimpor 40 juta(?) ekor lintah untuk keperluan itu. Lintah-lintah itu akan dilaparkan terlebih dahulu dengan tidak diberi makan, jadi bila ditempelkan pada tubuh manusia dia akan terus menghisap darah dengan begitu sangat efektif. Setelah kenyang lintah itu tidak berusaha lagi untuk bergerak dan terus jatuh.
Rasulullah memilihkan, dengan wahyu dari-Nya, dari sekian banyak terapi yang ada pada waktu itu yaitu dengan terapi herba dan bekam. Beliau bahkan sangat menyenanginya. Terbukti dari seringnya beliau berbekam dan beliau mengungkapkan sebaik-baiknya pengobatan ialah berbekam (Lihat bagian hadits). Wallahu 'alam bish showab.
Hadits-hadits Tentang Hijamah
"Pengobatan yang paling utama yang kalian lakukan adalah hijamah."
Muttafaq Alaihi; Al Bukhary, 5696; Muslim,1577
"Dari Ibn ‘Abbas ra. Dari Nabi SAW telah bersabda : Kesembuhan (Obat) itu ada pada tiga perkara yaitu minum madu, berbekam dan berkay dengan api, dan aku melarang umatku berkay dengan api itu."
Shohih Bukhari dalam Kitab Ath Thib
Perbandingan antara Darah Pembuluh dengan Darah Hijamah
Al-Allamah Muhammad Amin Syaikhu, yang melakukan penelitian tentang hijamah
“Rahasia mekanisme kesembuhan karena hijamah terletak pada pembersihan tubuh dari darah kotor yang menghambat peranan tubuh dalam melaksanakan tugas-tugasnya secara sempurna, sehingga membuat tubuh itu menjadi sasaran empuk berbagai jenis penyakit.”
Untuk mengungkap makna ungkapan di atas (membersihkan tubuh dari darah kotor), sekelompok pakar laboratorium melakukan penelitian terhadap darah yang keluar karena hijamah, yaitu dari bagian pundak atau punggung atas. Mereka membandingkannya dengan darah alami dari pembuluh darah beberapa orang yang menjalani hijamah, sesuai dengan prinsip-prinsipnya yang benar, agar diketahui bagaimana hasil tes antara keduanya.
Dari pengujian dan tes ini dapat disimpulkan hasilnya sebagai berikut:
- Darah hijamah menghimpun sepersepuluh kadar sel darah putih yang ada dalam darah alami. Itu terjadi dalam setiap kondisi tes tanpa ada pengecualian. Hal ini menunjukkan bahwa hijamah dapat menjaga unsur organ immunity dan bekerja untuk menguatkannya.
- Pada puncak sel darah merah, maka semua sel darah merah memiliki bentuk yang ganjil. Artinya, ia tidak mampu melaksanakan tugasnya . Dari sini tampak jelas bahwa hijamah dapat menghilangkan sel-sel darah merah yang kotor dan darah yang tidak diinginkan keberadaannya, sehingga yang tersisa di tubuh adalah sel-sel darah putuih. Di satu sisi pengambilan darah secara langsung dari pembuluh darah dapat menghilangkan pembentuk darah yang bermanfaat (HDL), sementara sel-sel darah merah yang mestinya dibuang (LDL), masih tetap ada.
- Volume pengikat zat besi yang ada dalam darah hijamah sangat tinggi (550-1100). Ini menunjukkan bahwa hijamah mampu menyisakan zat besi didalam tubuh, tanpa keluar bersama darah yang dikeluarkan karena pengobatan dengan hijamah.
Khasiat Berbekam
Kebanyakan orang yang berbekam menyatakan tubuh mereka terasa jauh lebih ringan, hal ini dikarenakan peredaran darah menjadi lebih lancar setelah darah statisnya (penyumbatan darah) dikeluarkan. Darah tersebut warnanya hitam pekat dan menggumpal, seperti marus (darah yang diendapkan beberapa waktu).
Sebagian kecil penyakit yang Insya Allah dapat disembuhkan adalah sebagai berikut:
- Sakit kepala secara umum
- Pusing-pusing yang bersifat sementara
- Migran
- Hemiplegia (lumpuh separo)
- Perdarahan otak
- Bermacam sakit di wajah, seperti sakit gigi, telinga, mata, dan hidung
- Varises
- Rheumatik
- Low Back Pain
- Gout (encok)
- Hemorhoid (wasir)
- Haid tidak teratur
- Elephantiasis (kaki gajah)
- Sesak nafas
- Mata bengkak (exophtalmus, proptosis)
- Liver maupun limpa
- Enuresis (ngompol)
- Konstipasi/sembelit
- Furunkel/bisul.
Dan masih banyak penyakit-penyakit lain yang tidak diketahui kecuali oleh Allah semata, dan Dia lah yang Maha Penyembuh.
Yang Pantang Berbekam
- Orang tua renta yang sakit tanpa daya dan upaya
- Penderita tekanan darah sangat rendah (dianjurkan minum habbatussauda).
- Penderita sakit kudis.
- Penderita diabetes mellitus.
- Perut wanita yang sedang hamil.
- Wanita yang sedang haid.
- Orang yang sedang minum obat pengencer darah.
- Penderita leukemia, thrombosit, alergi kulit serius.
- Orang yang sangat letih/kelaparan/kenyang/kehausan/gugup.
Anggota/Bagian Tubuh yang Tidak Boleh di-Bekam
- Mata, telinga, hidung, mulut, puting susu, alat kelamin, dubur.
- Area tubuh yang banyak simpul limpa.
- Area tubuh yang dekat pembuluh besar.
- Bagian tubuh yang ada varises, tumor, retak tulang, jaringan luka.
Waktu ber-Bekam
Imam asy-Syuyuthi menukil pendapat Ibnu Umar, bahwa berbekam dalam keadaan perut kosong itu adalah paling baik karena dalam hal itu terdapat kesembuhan. Maka disarankan bagi yang hendak berbekam untuk tidak makan-makanan berat 2-3 jam sebelumnya.
Sebaiknya berbekam dilakukan pada pertengahan bulan, karena darah kotor berhimpun dan lebih terangsang (darah sedang pada puncak gejolak).
Anas bin Malik r.a. menceritakan bahwa :
"Rasulullah SAW biasa melakukan hijamah pada pelipis dan pundaknya.
Beliau melakukannya pada hari ketujuhbelas, kesembilanbelas atau
keduapuluhsatu." (Diriwayatkan oleh Ahmad).
Pemilihan waktu bekam adalah sebagai tindakan preventif untuk menjaga kesehatan dan penjagaan diri terhadap penyakit. Adapun untuk pengobatan penyakit, maka harus dilakukan kapan pun pada saat dibutuhkan.
Hal-Hal yang Harus Diperhatikan Saat Akan ber-Bekam
- Perhatikan Kebersihan tempat & peralatan bekam.
- Pasien wanita dibekam oleh ahli bekam wanita dan pasien pria dibekam oleh ahli bekam pria.
- Pastikan silet/jarum yang dipergunakan untuk bekam MASIH BARU (masih disegel)
- Ahli bekam yang profesional TIDAK AKAN MEMAKAI/MEMPERGUNAKAN KOP/ALAT BEKAM YANG TELAH DIPAKAI OLEH PENDERITA HEPATITIS karena dapat beresiko menulari pasien lainnya. Oleh karena itu pasien hepatitis akan diminta untuk membeli kop/alat bekam sendiri dan khusus dipakai oleh pasien tsb setiap kali berbekam.
- Bekam sebaiknya dalam keadaan perut kosong atau 2 jam setelah makan.
- Sebelum dibekam biasanya pasien diperiksa tekanan darahnya terlebih dahulu. Pada orang yang tekanan darahnya rendah, bekam tidak dilakukan dengan banyak titik sekaligus, melainkan secara bertahap sehingga memakan waktu lebih lama daripada yang mempunyai tekanan darah normal.
- Minimal 2 jam setelah berbekam dianjurkan untuk tidak mandi karena pori-pori masih masih terbuka.
- Bila memungkinkan, carilah ahli bekam yang sekaligus memahami ilmu iridologi (dapat mendeteksi penyakit seseorang melalui pemeriksaan mata) dan pengobatan/terapi penyakit dengan herba (tumbuh-tumbuhan) sehingga selain dengan bekam dan pendeteksian penyakit dengan iridologi, maka pasien yang mengidap penyakit tertentu dapat segera dibantu pemulihan kesehatannya dengan dianjurkan mengkonsumsi herba.
Sumber:
Read more...
Zaadud Daa'iyah ilaLLOH (Bekal Para Da'i) oleh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin
Jumat, 23 November 2007
Assalaamu alaikum warohmatuLLOH wa barokatuH,
Segala puji hanya kita tujukan kepada ALLOH azza wa jalla. Sholawat dan salam hanya patut kita berikan kepada Nabi ALLOH azza wa jalla, RasuluLLOH alaihishsholaatu wassalaam, kepada keluarga beliau, sahabat, dan orang-orang yang teguh memegang risalahnya.
Mengingat penting dan agungnya misi yang sedang kita emban untuk merintis dan membentuk lingkungan perumahan yang Islami di Puri Insani, yang berpegang teguh terhadap Al-Quran dan As-Sunnah, yang menghidupkan Sunnah RasuluLLOH shollaLLOHU alaihi wa salam seperti yang dicontohkan oleh para sahabat rodhiyaLLOHU ajma'in, para tabi'in, dan para tabi'ut tabi'in, Insya ALLOH mulai pekan ini, ana akan menyampaikan secara seri kajian dari Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahuLLOH, sebagai bekal kita untuk menyampaikan risalah yang pernah disampaikan oleh RasuluLLOH shollaLLOHU alaihi wa salaam. Mudah-mudahan ALLOH azza wa jalla selalu memberikan kita kekuatan dan kesabaran dalam menjalankan misi kita yang mulia ini. Amin.
Abu Musyaffa
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِيمِ
Dengan Nama Alloh Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang
إن الحمد لله، نحمده، ونستعينه، ونستغفره، ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، أرسله الله تعالى بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله، فبلَّغ الرسالة، وأدى الأمانة، ونصح الأمة، وجاهد في الله حق جهاده، وترك أمته على محجة بيضاء ليلها كنهارها لا يزيغ عنها إلا هالك، فصلوات الله وسلامه عليه وعلى آله وأصحابه، ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، وأسأل الله عز وجل أن يجعلني وإياكم من أتباعه باطناً وظاهراً، وأن يتوفانا على ملته، وأن يحشرنا في زمرته، وأن يدخلنا في شفاعته، وأن يجمعنا به في جنات النعيم مع الذين أنعم الله عليهم من النبيين، والصديقين، والشهداء والصالحين. أما بعد:
Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Alloh, yang kita menyanjung-Nya, memohon pertolongan dan pengampunan dari-Nya serta kita bertaubat kepada-Nya. Kita berlindung kepada Alloh dari keburukan jiwa-jiwa kita dan kejelekan amal-amal kita.
Barangsiapa yang Alloh berikan petunjuk kepada-Nya maka tidak ada seorangpun yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Alloh leluasakan kepada kesesatan maka tidak ada seorangpun yang yang memberinya petunjuk.
Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq untuk disembah kecuali hanya Alloh semata yang tidak ada sekutu atas-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang Alloh Ta’ala mengutus beliau dengan petunjuk dan agama yang haq, yang Alloh menangkan dari semua agama. Kemudian beliau menyampaikan risalah, memenuhi amanat dan memberikan nasehat bagi ummat serta berjihad di jalan Alloh dengan sebenar-benarnya jihad. Beliau meninggalkan ummatnya dalam keadaan yang terang benderang, malamnya bagaikan siangnya dan tidak ada yang berpaling darinya kecuali akan binasa.
Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada beliau, keluarga beliau dan sahabat beliau, serta siapa saja yang mengikuti mereka dengan lebih baik sampai hari kiamat. Saya memohon kepada Alloh agar menjadikanku dan kalian termasuk para pengikut beliau secara bathin dan zhahir, mewafatkan kita di atas agama beliau, membangkitkan kita (pada hari kiamat kelak) di dalam barisan beliau, memasukkan kita ke dalam syafa’at beliau dan mengumpulkan kita di dalam surga na’im (yang penuh kenikmatan) bersama orang-orang yang Alloh anugerahkan nikmat kepada mereka dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada’ dan shalihin. Amma Ba’du :
Wahai saudaraku sekalian, sungguh saya benar-benar sangat berbahagia bisa bersua dengan saudara-saudaraku kaum muslimin di sini, dan juga di tempat lain yang diharapkan kebaikan darinya, yang turut menyebarkan agama ini. Karena Alloh Ta’ala telah mengambil perjanjian kepada setiap orang yang Ia anugerahkan ilmu padanya, agar menjelaskan ilmu yang ia miliki kepada manusia dan tidak boleh menyembunyikannya, sebagaimana firman Alloh Ta’ala :
وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَـقَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَـبَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلاَ تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَآءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْاْ بِهِ ثَمَناً قَلِيلاً فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang Telah diberi Kitab (yaitu): "Hendaklah kamu menerangkan isi Kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya," lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima,” (QS Ali ‘Imran 187).
Perjanjian yang Alloh ambil ini, bukanlah seperti perjanjian tertulis yang dapat disaksikan manusia, namun ia adalah perjanjian untuk mempelajari segala hal yang Alloh berikan kepada seseorang berupa ilmu. Apabila Alloh telah memberikannya ilmu, maka ini merupakan perjanjian yang Alloh telah mengikat pria atau wanita yang Ia berikan ilmu tersebut. Oleh karena itu wajib bagi orang yang memiliki ilmu untuk menyampaikan ilmunya berupa syariat Alloh Subhanahu wa Ta’ala ke setiap tempat dan pada setiap kesempatan.
Saudaraku sekalian, sesungguhnya tema ceramah kita kali ini adalah “Bekal bagi seorang da’i di dalam berdakwah ke jalan Alloh Azza wa Jalla”, dan bekal (zaad) bagi setiap muslim adalah apa yang telah diterangkan oleh Alloh Azza wa Jalla di dalam firman-Nya :
وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
“Berbekallah, dan Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS al-Baqoroh : 197).
Maka, bekal bagi tiap muslim adalah bertakwa kepada Alloh Azza wa Jalla, yang mana Alloh telah berulang kali menyebutkan takwa di dalam Al-Qur`an dan memerintahkannya, memuji orang yang melaksanakannya dan menjelaskan pahalanya, dan selainnya, diantaranya adalah firman-Nya :
وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَـوَتُ وَالاَْرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكَـاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَـافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَـاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ * أُوْلَـئِكَ جَزَآؤُهُمْ مَّغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَجَنَّـتٌ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا الاَْنْهَـرُ خَـالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَـامِلِينَ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka Mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS al-Baqoroh : 133-136)
Wahai saudaraku yang mulia, mungkin anda bertanya-tanya, apakah takwa itu?
Jawabnya adalah apa yang disebutkan di dalam sebuah atsar dari Tholq bin Habib rahimahullahu, beliau mengatakan :
التقوى أن تعمل بطاعة الله، على نور من الله، ترجو ثواب الله
“Takwa adalah, anda mengamalkan ketaatan kepada Alloh, di atas cahaya dari Alloh dan mengharap pahala Alloh.”
Di dalam ucapan ini, terhimpun sifat : (1) ilmu, (2) amal, (3) mengharap pahala dan (4) takut akan siksa-Nya, maka inilah yang dimaksud dengan takwa itu.
Sesungguhnya kita semua mengetahui, bahwa seorang dai yang menyeru kepada Alloh Azza wa Jala, adalah manusia yang paling utama untuk berhias dengan karakteristik ini, bertakwa kepada Alloh di saat bersendirian maupun di hadapan manusia. Saya akan menyebutkan -dengan pertolongan Alloh Azza wa Jalla- pada kesempatan ini, hal-hal yang berkaitan dengan seorang da’i dan bekal-bekal yang sepatutnya seorang da’i mempersiapkannya.
Read more...


