Khitanan Massal & Tabligh Akbar - 29 Desember 2007

Selasa, 29 Januari 2008

Alhamdulillaahi robbil'alamin.

Puji syukur ke hadirat Allah Subhaanahu wata'ala, menjelang akhir tahun masehi kemarin, tepatnya tanggal 29 Desember 2007, warga Sektor Puri Insani telah mengadakan kegiatan khitanan massal dan tabligh akbar yang diisi oleh Dai AWA - Pildacil.


Kegiatan khitanan yang merupakan salah satu implementasi dari program OPIQ ini diikuti oleh 12 anak yang tinggal di Sektor Puri Insani dan sekitarnya dengan peserta termuda berumur 3 tahun.



Acara dimeriahkan pula oleh tabligh akbar yang dibawakan oleh dai cilik AWA dengan tema berbakti kepada orang tua. Alhamdulillah, meskipun saat itu AWA sedang tidak dalam kondisi fit, tetapi Allah memberikan kekuatan sehingga tetap dapat menyampaikan tausyiahnya dengan penuh semangat.

Read more...

Diposting oleh Bambang Untoro di Selasa, Januari 29, 2008 0 komentar  

Idul Adha 1428 H

Jumat, 04 Januari 2008

"Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu; dan berkurbanlah" [QS Al Kautsar(108):2]

Alhamdulillahi robbil'alamin...syukur kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, kegiatan penyelenggaraan penyembelihan hewan kurban dan pendistribusian daging kurban telah berjalan dengan lancar.

Seperti tahun sebelumnya, pada hari raya Idul Adha tahun ini (1428 H), warga Sektor Puri Insani, Grand Depok City, menyelenggarakan penyembelihan hewan kurban dan pendistribusian daging kurban.

Pada tahun ini, jumlah hewan kurban yang terkumpul yaitu 3 ekor sapi dan 8 ekor kambing. Dari hewan kurban tersebut telah didistribusikan 336 bingkisan daging kurban.

"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhoan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya." [QS Al Hajj(22):37]

Read more...

Diposting oleh Bambang Untoro di Jumat, Januari 04, 2008 0 komentar  

LabbaikAllahumma labbaik...

Senin, 10 Desember 2007

"Kami datang ya Allah...memenuhi panggilan-Mu...."

Alhamdulillahirobbil'alamin...

Insya Allah, di bulan Dzulhijjah ini, beberapa warga Puri Insani berkesempatan menunaikan ibadah haji, memenuhi seruan, menjadi tamu-tamu Allah.

Berikut seuntai doa dari akhina Yahdi (Pa RT) yang mewakili doa tulus seluruh warga Puri Insani:

---------------------------
From: koesnaedi yahdi

Selamat jalan wahai duyufurrohman, tamu ALLOH SWT yang akan segera menjenguk BaituLLOH, wahai jiwa yang terpanggil semoga keberkahan yang akan kau raih dan kemabruran hajji yang akan kau gapai menjadikan dirimu semakin dekat kepada ALLOH SWT Robbul Izzati.

Do'a kami sekeluarga menyertai perjalananmu dan istri tercinta. Semoga keikhlasan, kesabaran dan ringannya langkahmu menjadi bukti kala kelak kau kembali menghadapNYA.

Gapailah surga dengan kemabruran hajjimu, raihlah kesempatan yang tidak semua orang bisa menggapainya.

Selamat jalan saudaraku, selamat menikmati indahnya ibadah di tanah suci Makkah Al Mukarromah dan Madinah Al Munawaroh serta nikmatilah indahnya kekhusyu'an kala Wukuf di Arofah, indahnya malam di Muzdalifah dan kesejukan Mina.

Do'akan kami sekeluarga agar senantiasa menjadi hamba-hamba ALLOH SWT yang senantiasa beriman, beristiqomah dan berjihad dijalanNYA, Insya ALLOH, Aamiiin.....Dan do'akan warga Puri Insani agar menjadi warga yang senantiasa menjalankan SyariatNYA dan menetapkan jalan RosulNYA, Aamiiin....



Read more...

Diposting oleh Bambang Untoro di Senin, Desember 10, 2007 0 komentar  

OPIQ - Perolehan Dana Infaq & Zakat 2007 - 2008

Selasa, 04 Desember 2007

Posting ini terakhir diperbaharui pada tanggal 26.05.2008





Catatan:
  • Dana infaq dan zakat yang tercantum dalam grafik hanya yang dalam IDR
  • Dana infaq untuk bulan Agustus 2007, selain nilai yang tercantum di grafik, ada tambahan susulan sebesar 1.000.000
  • Pengumpulan kotak infaq, pada bulan November 2007 tidak dilakukan, digabung di bulan Desember
  • Pengumpulan kotak infaq, pada bulan Januari 2008 tidak dilakukan, digabung di bulan Februari 2008

Program Optimalisasi Infaq (OPIQ) merupakan program penempatan kotak infaq di rumah-rumah untuk pembiasaan infaq harian untuk kemudian disalurkan kepada warga sekitar komplek antara lain dalam bentuk pemeriksaan kesehatan, pembagian sembako, bantuan dana pendidikan, dan lain-lain.

Program ini dilakukan bekerja sama dengan Rumah Zakat Indonesia.
Read more...

Diposting oleh Bambang Untoro di Selasa, Desember 04, 2007 0 komentar  

OPIQ - Laporan Hasil Pengumpulan Dana Infaq - 1 Desember 2007


Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh,


Bersama ini kami bermaksud menyampaikan hasil pengumpulan dana infaq tanggal 01 Desember 2007, yang merupakan pengumpulan untuk periode November dan Desember 2007:

Kotak RZI
Kotak yang terkumpul : 40

Dana

Zakat : Rp 1.610.000
Infaq : Rp 3.711.650


Alhamdulillah, di bulan November ini sudah disalurkan tambahan dana bantuan pendidikan bulanan untuk 5 anak (4 SD, 1 SMP) sehingga total anak asuh yang diberikan dana bantuan pendidikan bulanan ada 10 anak (7 SD, 3 SMP).

DKM mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas partisipasi dan kemurahan hati bapak/ibu sekalian, sehingga semua kegiatan di atas dapat berjalan. Jazakumulloh khoiron katsiro.


Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Read more...

Diposting oleh Bambang Untoro di Selasa, Desember 04, 2007 0 komentar  

Bekal Para Da'i - Bekal Pertama : Berilmu

Jumat, 30 November 2007

Assalaamu alaikum warohmatuLLOH wa barokatuH,

Lanjutan dari artikel pekan kemarin. Bekal yang pertama ini sangat berkaitan erat dengan artikel yang diposting oleh Akhi Najib mengenai beramal dengan ilmu. Insya ALLOH semakin menambah semangat kita untuk terus mencari ilmu yang syar'i.

Wassalaamu alaikum warohmatuLLOH wa barokatuH,

Abu Musyaffa

BEKAL PERTAMA : BERILMU

Seorang da’i haruslah memiliki ilmu tentang apa yang ia dakwahkan di atas ilmu yang shahih yang berangkat dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Karena setiap ilmu yang diambil dari selain Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, wajib diteliti terlebih dahulu. Setelah menelitinya, maka dapat menjadi jelas apakah ilmu tersebut selaras ataukah menyelisihi Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Apabila selaras maka diterima dan apabila menyelisihi maka wajib menolaknya tidak peduli siapapun yang mengucapkannya.

Telah tetap sebuah riwayat dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya beliau berkata :


يوشك أن تنزل عليكم حجارة من السماء أقول: قال رسول الله وتقولون: قال أبو بكر وعمر
“Sungguh nyaris kalian ditimpa hujan batu dari langit. Saya mengatakan sabda Rasulullah, kalian malah menjawab dengan ucapan Abu Bakr dan ’Umar.”


Apabila pada ucapan Abu Bakr dan ’Umar yang menyelisihi ucapan Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam saja (diancam) seperti ini, lantas bagaimana menurut anda dengan ucapan orang yang keilmuan, ketakwaan, persahabatan dan kekhilafahannya di bawah keduanya (Abu Bakr dan ’Umar)?!

Sesungguhnya, menolak ucapan orang yang menyelisihi Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam adalah suatu hal yang lebih utama. Alloh Azza wa Jalla telah berfirman :


فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَـالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
”Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih.” (QS an-Nuur : 63)

Imam Ahmad rahimahullahu berkata :


أتدري ما الفتنة؟ الفتنة الشرك، لعله إذا ردّ بعض قوله أن يقع في قلبه شيء من الزيغ فيهلك
”Apakah anda tahu apa yang dimaksud dengan fitnah (dalam ayat di atas, pent.)? fitnah adalah syirik. Bisa jadi ketika ia menolak sebagian ucapan Rasulullah akan masuk ke dalam hatinya sesuatu kesesatan yang pada akhirnya akan membinasakannya.”


Sesungguhnya, bekal pertama yang seharusnya seorang da’i di jalan Alloh mempersiapkannya adalah, ia harus berada di atas ilmu yang diambil dari Kitabullah Ta’ala dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu ’alaihi wa Salam yang shahih lagi maqbul (diterima). Adapun dakwah tanpa ilmu maka sesungguhnya ini termasuk dakwah di atas kejahilan, dan berdakwah di atas kejahilan itu madharatnya lebih besar dibandingkan manfaatnya. Karena da’i yang berdakwah di atas kejahilan ini, menempatkan dirinya sebagai seorang yang mengarahkan dan membimbing.


Apabila ia orang yang jahil, maka dengan melakukan dakwah seperti ini (di atas kejahilan), dapat menyebabkannya sesat dan menyesatkan, wal’iyadzubillah. Kejahilannya ini akan menjadi jahlul murokkab (kebodohan yang bertingkat) sedangkan jahlul murokkab itu lebih buruk dibandingkan jahlul basith. Karena jahlul basith itu dapat menahan pelakunya dan tidak akan berbicara, dan bisa jadi ia dapat menghilangkan kejahilannya dengan belajar. Tetapi, yang menjadi sumber segala permasalahan adalah keadaan orang yang jahil murokkab, karena orang yang jahil murokkab ini tidak mau diam, ia akan terus berbicara walaupun dari kejahilannya. Pada saat itulah ia menjadi orang yang lebih banyak membinasakan daripada menerangi.


Saudaraku sekalian, sesungguhnya berdakwah ke jalan Alloh tanpa diiringi dengan ilmu itu menyelisihi tuntunan Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam dan orang yang mengikuti beliau.


Dengarkanlah firman Alloh Ta’ala yang memerintahkan Nabi-Nya Muhammad Shallallahu ’alaihi wa Salam dalam firman-Nya berikut :



قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِى أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِى وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَآ أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
”Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah di atas bashiroh (hujjah yang nyata). Maha Suci Allah, dan Aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".” (QS Yusuf : 108)


Firman-Nya : ” Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah di atas bashiroh (hujjah yang nyata)”, artinya adalah : orang yang mengikuti beliau Shallallahu ’alaihi wa Salam, wajib atasnya berdakwah mengajak kepada Alloh di atas bashiroh, tidak di atas kejahilan.


Renungkanlah wahai para da’i firman Alloh ”di atas bashiroh”, yaitu di atas bashiroh pada tiga hal :


Pertama : di atas bashiroh terhadap apa yang di dakwahkan, yaitu ia haruslah memiliki ilmu (baca : mengetahui) tentang hukum syar’i yang ia dakwahkan. Karena bisa jadi ia mengajak kepada sesuatu yang ia duga sebagai suatu hal yang wajib sedangkan di dalam syariat tidaklah wajib, sehingga ia mengharuskan hamba-hamba Alloh sesuatu yang Alloh tidak mengharuskannya. Bisa jadi pula ia mengajak untuk meninggalkan sesuatu yang ia anggap haram sedangkan hal itu di dalam agama Alloh tidaklah haram, sehingga ia telah mengharamkan bagi hamba-hamba Alloh sesuatu yang Alloh halalkan bagi mereka.


Kedua : di atas bashiroh terhadap kondisi dakwah (baca : kondisi obyek dakwah, pent.), oleh karena itulah Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam tatkala mengutus Mu’adz ke Yaman, beliau berpesan padanya :



إنك ستأتي قوماً أهل كتاب
”Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari ahli kitab”1


Supaya dia (Mu’adz) mengetahui kondisi mereka dan bersiap-siap di dalam menghadapi mereka.


Oleh karena itulah kondisi mad’u (obyek dakwah) ini haruslah diketahui, sejauh mana tingkat pengetahuan mereka? Sejauh mana kemampuan mereka untuk debat? Sehingga ia dapat mempersiapkan dirinya untuk berdiskusi dan berdebat dengan mereka. Karena sesungguhnya, apabila anda memasuki perdebatan dengan orang seperti ini (baca : yang lebih berilmu dan pandai debat sedangkan anda tidak mengetahuinya, pent.), sedangkan dia lebih tangguh di dalam berdebat, maka hal ini akan menjadi bencana yang besar terhadap kebenaran, dan andalah penyebab ini semua.


Anda jangan pernah sekali-kali beranggapan bahwa para pelaku kebatilan pasti gagal di dalam segala hal, padahal Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda :



إنكم تختصمون إليّ ولعل بعضكم أن يكون ألحن بحجته من بعض فأقضي له بنحو ما أسمع
”Sesungguhnya kalian bertikai dan datang melapor kepadaku, dan bisa jadi ada sebagian dari kalian yang lebih lihai di dalam mengemukakan hujjahnya daripada yang lainnya sehingga aku memutuskannya berdasarkan apa yang aku dengar.”2


Hadits ini menunjukkan bawah seorang yang bertikai, walaupun ia seorang yang batil, terkadang ia lebih cakap di dalam mengemukakan hujjahnya daripada orang lain, sehingga diputuskan berdasarkan apa yang didengar dari orang yang bertikai ini, oleh karena itulah anda harus mengetahui kondisi mad’u.


Ketiga : di atas bashiroh di dalam cara berdakwah. Alloh Ta’ala berfirman :



ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَـدِلْهُم بِالَّتِى هِىَ أَحْسَنُ
”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS an-Nahl : 125).


Sebagian manusia, acap kali ketika menjumpai suatu kemungkaran, ia langsung terburu-buru main sikat. Ia tidak berfikir akan dampak dan akibat perbuatannya ini, tidak hanya bagi dirinya, namun juga bagi dirinya dan rekan seperjuangannya sesama da’i yang menyeru kepada kebenaran. Oleh karena itulah, wajib bagi seorang da’i sebelum ia bergerak (untuk berdakwah), hendaknya ia mencermati dan menimbang dampak-dampaknya. Kadang kala, dapat juga terjadi pada waktu itu, sesuatu yang tidak hanya akan memadamkan kobaran semangat atas aktivitasnya (baca : dakwahnya), namun perbuatannya ini juga akan memadamkan api semangatnya dan semangat orang selainnya di masa yang akan datang, mungkin dalam waktu dekat tidak lama lagi. Oleh karena itulah, aku menganjurkan saudara-saudaraku agar berdakwah dengan menggunakan hikmah dan ta`anni (baca : tenang, tidak tergesa-gesa), suatu perkara yang mungkin akan menunda waktu barang sedikit, namun hasilnya akan terpuji dengan kehendak Alloh Ta’ala.


Apabila hal ini, maksudku da’i yang berbekal dengan ilmu shahih yang dibangun di atas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam, merupakan sesuatu yang ditunjukkan oleh nash-nash syar’iyyah, maka sesungguhnya (hal ini) juga ditunjukkan oleh akal yang sharih (terang) yang tidak memiliki syubhat maupun syahwat. Karena bagaimana mungkin anda dapat berdakwah menyeru kepada Alloh Jalla wa ’Ala sedangkan anda tidak mengetahui jalan yang dapat mengantarkan kepada-Nya. Anda tidak mengetahu syariat-Nya lantas bagaimana bisa dibenarkan anda menjadi seorang da’i? Apabila seorang manusia tidak memiliki ilmu, maka yang utama baginya adalah belajar terlebih dahulu, baru kemudian ia boleh berdakwah.

Mungkin akan ada yang berkata : ”Bukankah ucapan anda ini menyelisihi ucapan Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam :



بلغوا عني ولو آية
”Sampaikan dariku walaupun hanya satu ayat.”3


Maka saya jawab : tidak. Karena Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda : ”Sampaikan dariku”, oleh karena itulah sesuatu yang kita sampaikan haruslah benar-benar dari Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam. Dan inilah yang kami maksudkan. Pada saat kami mengatakan bahwa da’i itu memerlukan ilmu, kami bukanlah memaksudkan bahwa ia haruslah mencapai tingkatan orang yang ahli di dalam ilmu, namun kami mengatakan bahwa ia tidak boleh berdakwah melainkan dengan apa yang ia ketahui saja dan tidak boleh berkata melainkan dengan yang ia ketahui.



1. Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Kitabuz Zakah, Bab Akhdzush Shodaqoh minal Aghniya’ wa taruddu ilal Fuqoro` haitsu kaanuu (1469) dan Muslim dalam Kitabul Iman, Bab as-Du`a’ ila asy-Syahadatain wa Syaro’i` al- Islam (13), (19).
2. Diriwayatkan oleh al-Bukhari di dalam Kitabusy Syahadaat, Bab man Aqoomal Bayyinah ba’dal Yamiin (2680) dan Kitabul Ahkaam, Bab Mau’izhatul Imam lil Hadhorim (7169) serta Muslim di dalam Kitab Bab Bayaan anna Hukmal Haakim la yughoyyirul Bathin (1713).
3. Dikeluarkan oleh al-Bukhari dalam Kitab Ahaadits al-Anbiya`, Bab Ma dzakaro ’an Bani Isra`il (3461).

Read more...

Diposting oleh Abu Musyaffa di Jumat, November 30, 2007 0 komentar  

Al-Hijamah - Bekam

Senin, 26 November 2007

"dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku,"
[Asy Syu'araa (26): 80]


"…apa saja yang dibawa Rosul kepadamu, maka ambillah, dan apa saja yang
dilarangnya, maka tinggalkanlah…
"
[Al-Hasyr (59): 7]


"Tidaklah Allah menurunkan penyakit melainkan menurunkan penawarnya."
[HR. Bukhari]




Hijamah atau bekam atau kop (dari bahasa Inggris: Blood cupping) adalah salah satu metode Thibbun Nabawwi - pengobatan yang dicontohkan Nabi.



Definisi Al-Hijamah, Bekam

Kata al-hijmu berarti pekerjaan al-hajjam, tukang bekam. Al-Hijmu berarti mengisap atau menyedot. Al- Hajjam sama dengan al-mashshash, tukang menghisap, tukang bekam.

Al- Mihjam atau al-mihjamah merupakan gelas yang digunakan untuk menampung darah yang dikeluarkan dari kulit pasien, atau gelas untuk menghimpun darah hijamah.

Kesimpulan definisi hijamah menurut bahasa ialah ungkapan tentang menghisap darah dan mengeluarkannya dari permukaan kulit, yang kemudian ditampung di dalam gelas mihjamah, yang menyebabkan pemusatan dan penarikan darah di sana, lalu dilakukan penyayatan kulit dengan pisau bedah, guna untuk mengeluarkan darah.



Bekam untuk Pengobatan

Para ahli sepakat bahwa pengobatan yang baik ialah pengobatan luar dalam.
Dengan dua terapi ini, herba dan bekam, merupakan kekuatan sinergis bila dipadukan, bekam sebagai terapi luar, dan herba sebagai terapi dalam yang tidak bisa disembuhkan dengan bekam.

Terapi bekam memungkinkan mengeluarkan darah kotor dengan cepat agar badan kita tidak lemah dan diserang penyakit. Darah kotor yang dikeluarkan tersebut bisa jadi mengandung toksid (racun) yang dapat menyebabkan statis darah (penyumbatan darah) bahkan diantara penyebab terjadinya penyakit. Sistem darah yang tidak berjalan dengan lancar, sedikit demi sedikit akan mengganggu kesehatan baik itu fisik ataupun mental seseorang.

Darah yang diambil dengan Al Hijamah ialah darah yang berada dibawah lapisan jaringan kulit, kapiler, bukan pembuluh pena apalagi arteri. Karena kulit merupakan jaringan terbesar yang ada pada diri manusia yang disanalah beradanya sisa-sisa toksid dalam darah.



Sejarah Bekam

Terapi bekam itu telah dikenal bangsa-bangsa purba sejak kerajaan Sumeria berdiri, lalu berkembang di Babilonia, Mesir, Saba dan Persia. Namun, menurut As Suyuthi, bekam berasal dari Isfahan. Jadi, sebelum Rasul SAW diutuspun bekam telah ada.

Orang-orang Barat telah lama mengenal pengobatan dengan membuang darah, pada abad ke 18 mereka menggunakan lintah sebagai alat untuk berbekam. Pada suatu waktu Perancis pernah mengimpor 40 juta(?) ekor lintah untuk keperluan itu. Lintah-lintah itu akan dilaparkan terlebih dahulu dengan tidak diberi makan, jadi bila ditempelkan pada tubuh manusia dia akan terus menghisap darah dengan begitu sangat efektif. Setelah kenyang lintah itu tidak berusaha lagi untuk bergerak dan terus jatuh.

Rasulullah memilihkan, dengan wahyu dari-Nya, dari sekian banyak terapi yang ada pada waktu itu yaitu dengan terapi herba dan bekam. Beliau bahkan sangat menyenanginya. Terbukti dari seringnya beliau berbekam dan beliau mengungkapkan sebaik-baiknya pengobatan ialah berbekam (Lihat bagian hadits). Wallahu 'alam bish showab.



Hadits-hadits Tentang Hijamah

"Pengobatan yang paling utama yang kalian lakukan adalah hijamah."
Muttafaq Alaihi; Al Bukhary, 5696; Muslim,1577

"Dari Ibn ‘Abbas ra. Dari Nabi SAW telah bersabda : Kesembuhan (Obat) itu ada pada tiga perkara yaitu minum madu, berbekam dan berkay dengan api, dan aku melarang umatku berkay dengan api itu."
Shohih Bukhari dalam Kitab Ath Thib



Perbandingan antara Darah Pembuluh dengan Darah Hijamah

Al-Allamah Muhammad Amin Syaikhu, yang melakukan penelitian tentang hijamah


Rahasia mekanisme kesembuhan karena hijamah terletak pada pembersihan tubuh dari darah kotor yang menghambat peranan tubuh dalam melaksanakan tugas-tugasnya secara sempurna, sehingga membuat tubuh itu menjadi sasaran empuk berbagai jenis penyakit.

Untuk mengungkap makna ungkapan di atas (membersihkan tubuh dari darah kotor), sekelompok pakar laboratorium melakukan penelitian terhadap darah yang keluar karena hijamah, yaitu dari bagian pundak atau punggung atas. Mereka membandingkannya dengan darah alami dari pembuluh darah beberapa orang yang menjalani hijamah, sesuai dengan prinsip-prinsipnya yang benar, agar diketahui bagaimana hasil tes antara keduanya.

Dari pengujian dan tes ini dapat disimpulkan hasilnya sebagai berikut:
  1. Darah hijamah menghimpun sepersepuluh kadar sel darah putih yang ada dalam darah alami. Itu terjadi dalam setiap kondisi tes tanpa ada pengecualian. Hal ini menunjukkan bahwa hijamah dapat menjaga unsur organ immunity dan bekerja untuk menguatkannya.
  2. Pada puncak sel darah merah, maka semua sel darah merah memiliki bentuk yang ganjil. Artinya, ia tidak mampu melaksanakan tugasnya . Dari sini tampak jelas bahwa hijamah dapat menghilangkan sel-sel darah merah yang kotor dan darah yang tidak diinginkan keberadaannya, sehingga yang tersisa di tubuh adalah sel-sel darah putuih. Di satu sisi pengambilan darah secara langsung dari pembuluh darah dapat menghilangkan pembentuk darah yang bermanfaat (HDL), sementara sel-sel darah merah yang mestinya dibuang (LDL), masih tetap ada.
  3. Volume pengikat zat besi yang ada dalam darah hijamah sangat tinggi (550-1100). Ini menunjukkan bahwa hijamah mampu menyisakan zat besi didalam tubuh, tanpa keluar bersama darah yang dikeluarkan karena pengobatan dengan hijamah.


Khasiat Berbekam

Kebanyakan orang yang berbekam menyatakan tubuh mereka terasa jauh lebih ringan, hal ini dikarenakan peredaran darah menjadi lebih lancar setelah darah statisnya (penyumbatan darah) dikeluarkan. Darah tersebut warnanya hitam pekat dan menggumpal, seperti marus (darah yang diendapkan beberapa waktu).

Sebagian kecil penyakit yang Insya Allah dapat disembuhkan adalah sebagai berikut:

  • Sakit kepala secara umum
  • Pusing-pusing yang bersifat sementara
  • Migran
  • Hemiplegia (lumpuh separo)
  • Perdarahan otak
  • Bermacam sakit di wajah, seperti sakit gigi, telinga, mata, dan hidung
  • Varises
  • Rheumatik
  • Low Back Pain
  • Gout (encok)
  • Hemorhoid (wasir)
  • Haid tidak teratur
  • Elephantiasis (kaki gajah)
  • Sesak nafas
  • Mata bengkak (exophtalmus, proptosis)
  • Liver maupun limpa
  • Enuresis (ngompol)
  • Konstipasi/sembelit
  • Furunkel/bisul.

Dan masih banyak penyakit-penyakit lain yang tidak diketahui kecuali oleh Allah semata, dan Dia lah yang Maha Penyembuh.



Yang Pantang Berbekam

  • Orang tua renta yang sakit tanpa daya dan upaya
  • Penderita tekanan darah sangat rendah (dianjurkan minum habbatussauda).
  • Penderita sakit kudis.
  • Penderita diabetes mellitus.
  • Perut wanita yang sedang hamil.
  • Wanita yang sedang haid.
  • Orang yang sedang minum obat pengencer darah.
  • Penderita leukemia, thrombosit, alergi kulit serius.
  • Orang yang sangat letih/kelaparan/kenyang/kehausan/gugup.



Anggota/Bagian Tubuh yang Tidak Boleh di-Bekam

  • Mata, telinga, hidung, mulut, puting susu, alat kelamin, dubur.
  • Area tubuh yang banyak simpul limpa.
  • Area tubuh yang dekat pembuluh besar.
  • Bagian tubuh yang ada varises, tumor, retak tulang, jaringan luka.



Waktu ber-Bekam

Imam asy-Syuyuthi menukil pendapat Ibnu Umar, bahwa berbekam dalam keadaan perut kosong itu adalah paling baik karena dalam hal itu terdapat kesembuhan. Maka disarankan bagi yang hendak berbekam untuk tidak makan-makanan berat 2-3 jam sebelumnya.

Sebaiknya berbekam dilakukan pada pertengahan bulan, karena darah kotor berhimpun dan lebih terangsang (darah sedang pada puncak gejolak).
Anas bin Malik r.a. menceritakan bahwa :

"Rasulullah SAW biasa melakukan hijamah pada pelipis dan pundaknya.
Beliau melakukannya pada hari ketujuhbelas, kesembilanbelas atau
keduapuluhsatu.
" (Diriwayatkan oleh Ahmad).

Pemilihan waktu bekam adalah sebagai tindakan preventif untuk menjaga kesehatan dan penjagaan diri terhadap penyakit. Adapun untuk pengobatan penyakit, maka harus dilakukan kapan pun pada saat dibutuhkan.



Hal-Hal yang Harus Diperhatikan Saat Akan ber-Bekam

  1. Perhatikan Kebersihan tempat & peralatan bekam.
  2. Pasien wanita dibekam oleh ahli bekam wanita dan pasien pria dibekam oleh ahli bekam pria.
  3. Pastikan silet/jarum yang dipergunakan untuk bekam MASIH BARU (masih disegel)
  4. Ahli bekam yang profesional TIDAK AKAN MEMAKAI/MEMPERGUNAKAN KOP/ALAT BEKAM YANG TELAH DIPAKAI OLEH PENDERITA HEPATITIS karena dapat beresiko menulari pasien lainnya. Oleh karena itu pasien hepatitis akan diminta untuk membeli kop/alat bekam sendiri dan khusus dipakai oleh pasien tsb setiap kali berbekam.
  5. Bekam sebaiknya dalam keadaan perut kosong atau 2 jam setelah makan.
  6. Sebelum dibekam biasanya pasien diperiksa tekanan darahnya terlebih dahulu. Pada orang yang tekanan darahnya rendah, bekam tidak dilakukan dengan banyak titik sekaligus, melainkan secara bertahap sehingga memakan waktu lebih lama daripada yang mempunyai tekanan darah normal.
  7. Minimal 2 jam setelah berbekam dianjurkan untuk tidak mandi karena pori-pori masih masih terbuka.
  8. Bila memungkinkan, carilah ahli bekam yang sekaligus memahami ilmu iridologi (dapat mendeteksi penyakit seseorang melalui pemeriksaan mata) dan pengobatan/terapi penyakit dengan herba (tumbuh-tumbuhan) sehingga selain dengan bekam dan pendeteksian penyakit dengan iridologi, maka pasien yang mengidap penyakit tertentu dapat segera dibantu pemulihan kesehatannya dengan dianjurkan mengkonsumsi herba.

Sumber:


Read more...

Diposting oleh Bambang Untoro di Senin, November 26, 2007 6 komentar